Jumat, 27 Januari 2012

Padaku, padaku



Aku percayalah, inikah kejutan, makan malam yang kau kagetkan mengapa nasi goreng ini campur babi, demikian matamu jadi tak bulat ketika anjing-anjing itu menikamku dengan lidahnya ,ini tentang apa, dan aku ketawa, kau ketawa

mainlah kerumahku, masa kecil itu tersimpan dalam toples-toples tanpa tutup, dingin dan kosong kehilangan, sekarang kapan sudah sampai, di hari yang masak bagiku, pertanyaan-pertannyan itu, masa kecil yang kagum pada bulan dan takut pada malam, luculah aku, luculah kau

Aku percayalah, pertemuan kita persetubuhan cahaya. Suara-suara itu sederhana ketika aku tau caranya diam

Berita pagi dalam suplemen, dik



Dik, aku ingin tidur, dan bangun lagi setiap pagi untuk minum suplemen daily

Tak perlu memikirkan apapun. Mereka aku biarkan dalam televisi bicara, jangan matikan, biar saja, supaya kejadian tetaplah kejadian, sekalipun aku sedang tidur suplemen menjagaku dari peluang untuk ketawa-ketawa atas nama keadilan, Koran-koran menulis puisinya di halaman depan.
Mereka yang memelas di lampu-lampu merah kenapa tak diberi suplemen daily supaya terjaga dari penyakit kota, sungai-sungai lihatlah, lidah kota sebenarnya, pemuda bicara serang, pemuda bicara bakar, bahasa tembakan berdengung seperti suara lalat, aku sering bangun dan minum lagi suplemen daily, mimpi dan kenyataan makin sulit dibedakan.

Oran asin




yakamoto, ini malioboro
Tolong jangan bangun cerita apapun sebelum ini
Kau tahu, masalalu aku curigai membuat pikiran menjadi tua, menyebapkan penuan dini sepuluh tahun datang lebih awal dari usiamu

Aku disini yakamoto, kau juga?
Bukankah disetiap tempat lain kita adalah sama asingnya, orang asing tapi kau sebut saja oran asin, mungkin karena hidungmu pesek dan sulit mengeluarkan suara berdengung yang ideal

Semua menjadi penting di sini, oran asin
Kita bahagia seperti orang-orang bahagia
Tolong jangan bicara yang dulu-dulu, dulunya, waktu itu
Pelancong hanya berhak merasa asing dan heran-heran
Aku ingin beli baju heran, di foto heran, makan yang heran-heran

Kota dengan warna lampu yang heran pada para pejalannya
Disini orang-orang punya energi untuk membangun negara dalam tas belanja
Kesana-kesini memburu heran

Kuda-kuda kota, apakah bosan dan ingin diam sebentar
mereka membuatku heran

yakamoto, kuda-kuda itu sepi sekali
sepertimu, oran asin

Cita-cita siapa




Gelas tidur, lantai menjadi lebih dingin, ada kabut dalam kaset-kaset film, ia sudah pergi dengan membiarkan debu-debu datang ke sini
Semalam ini siapa yang memukul siapa yang menahan siapa yang jengkel pada siapa

Sejak tidur semua yang bangun menjadi siapa

Siapa benarkah tak kenal siapa, siapa sia-sia siapa sampai siapa datang pergi
Ia sudah pergi, dan gelas diam saja, pintu diam saja, lampu dan laron diam saja
Inikah suara panjang lagu-lagu yang gagal menjadi siapa
Mungkin waktu dan tujuan tak ada, siapa
Jalan dekat atau jauh sama saja, siapa

tidurlah

omong kosong, siapa

2012

Kamis, 26 Januari 2012

Sajak sajak tajam runcing


Mereka datang, sajak-sajak itu suatu kali, saat orang-orang sengaja tidur sengaja bangun, sajak-sajak bicara padaku dalam bahasa er se tu eb un al al le lu, lain hari aku yang datang padanya, pada sajak-sajak itu, dan bicara dalam bahasa be ce de e ef ge, lain hari kami tak sengaja ketemu, mereka lahir dari percintaan cahaya pada ruang, padaku, padamu, pada aksesorisku, mereka sajak-sajak itu banyak yang mati sia-sia atau menjadi pohon artifisial seperti teman-temanku menjadi pasukan kerajaan di bumi ini, ada penjahat, ada keluarga, ada pasar, ada kuburan, ada gereja, ada banyak sekali peristiwa, tetapi hanya sajak-sajak, yang datang padaku di tempat yang mengasingkanku dari bahasaku

lamaran datang suatu hari



Sayang pergilah, pergi yang jauh, jangan pulang ke sini lagi, pergilah seperti hari-hari pergi, jam-jam pergi, tahun-tahun pergi, semua yang menandai kau pernah di sini, bawalah apa yang dapat dibawa, jangan tinggalkan apapun sekalipun kenangan, bohonglah kalau ingatan tak dapat dilampaui oleh jarak, oleh kekuatan magis, larilah sejauh mungkin dariku, karena aku monster, aku yang dulu lama-lama di sampingmu, membuatmu leleh dan lengket, membuatmu jinak dan cengeng, membuatmu percaya pada suaraku, kenapa kau harus menjadi sangat beku sekarang, teguh menyedihkan, apakah aku harus rajin-rajin kasihan, dan menjagamu seperti menjaga sore yang murung, aku sedih sayang, cinta ternyata seperti indomaret, ramai, enak, banyak dan gampang tapi membuatmu seperti wajib untuk datang, aku sedih sayang membayangkan anak-anak lahir dari rasa kasihan dan waktu yang cemas pada usiaku, usiamu, atau pada orangtua kita yang lugu, aku memang aneh, maka pergilah, pergi yang jauh, sejauh kau bisa, karena aku tak ingin di sana, mati bosan dalam kasih sayangmu yang makin lama makin mirip malaikat dari kitab-kitab suci, baik hati dan berwibawa, kadang-kadang kenapa kita tidak menyamar saja, atau kerasukan arwah manusia lain, ah, kalau tidak karena ibu aku tak merasa bersalah pada dunia ini, hanya itu yang tersisa, sebab ada yang menarik-narikku setiap kali menyangkal, ibu dari mana rahim itu asalnya, benarkah tuhan meniupkannya, aku takut membayangkannya seperti membayangkan lelaki itu di sini sekarang, dan ia ingin menanam aku ke dalam aku yang lain, kenapa pertemuan harus disahkan menjadi sesuatu, aku ingin dia pergi, tapi dia menjadi beku sekarang, menjadi patung, menjadi batu, menjadi pohon, menjadi kayu dan jika bukan karena ibu, aku tak merasa bersalah pada dunia ini.

Puisi menthol



Diamlah
Dunia baru saja lahir diujung mata, kenapa ada panggung lahir sia-sia

where are u?



Kami takut memikirkanmu, sebab pikiran lain menghilang dari kepala, kami jadi aneh, sebab meletakkanmu pada setiap benda dikamar, mengunci diri dan menikmati mata yang terus dikelabui, kami menyesal dan putus asa, kenapa semua menjadi tentangmu, suara kokok ayam memanggil namamu, suara malam menceritakanmu, orang-orang diluar sana menyebutmu, tanah ini menyimpan bagianmu, kami ingin sembunyi dan sedang berusaha sehat, tidak, tidak, rindu ini bukan mengharapkan kedatanganmu, bukan, bukan, rindu ini tak meminta apapun darimu, kami merindukanmu dan sangat takut sekarang ini, kenapa kami menjadi bagian demi bagian yang memisahkan diri sendiri, tangan, suara, rambut semua bagian tubuh menjadi gerombolan semut kehilangan sarang, kami merindukanmu dan menekan banyak hal, kami merindukanmu dan tak lagi tahu ini kesedihan atau kesenangan.

2011

Bulan dalam omelet




2 telur+sosis+garam+merica+keju

Kita bisa tenang sebentar di sini
Dengarlah, Aku juga bisa mengeja apa yang ditinggalkan tentang suara kenalpot dan bau semua laki-laki di kota yang dilupakan ini, mouse bicara padaku, tenang sekali tentang petunjuk menuju halamanmu, aku membakar rokok dan membayangkan banyak hal mengenai kita sepagi ini, jam 2 tanpa hape dan modem, mereka tidur seperti anak-anak tidur, tapi diluar sana seperti banyak pohon sedang bicara, mereka pulang pagi membawa banyak oksigen di balik jendela, aku tak mengingau seperti sms dan telepon yang mungkin saja, kita akan kemana, kemana saja, kita akan sering menonton pertunjukan, membacakan puisi, menertawakan kaki langit, selendang pelangi, tapi aku tak mau berpelukan seperti asmara dalam marga t, atau seliar ayu utami, cukup ciuman yang gemetar dan kilat di suatu sore setelah makan burger atau menyantap magnum yang mungkin saja, kau akan menyayikan apa untukku, ini bukan desember atau januari, ini bulan dalam omelet yang dingin, makan malam, sarapan pagi, bukankah aku masak dan makan sendiri.

2011

Mitologi Tuhan

“tentramlah”  katanya

Bukankah derita adalah kenikmatan yang pusaka

Surat Kejadian

tuanku;
tanah, burung dan buah berbiji
telah diserahkan padaku dari tongkat tuanku
kenapa aku risau
debu peradapan telah bernyawa dan bicara
aku salahkan penciptaan
menolak suara air dalam riaknya

bicaralah
pohon apa ini, pohon apa ini

dosa kejadian ini sengaja bukan
jadilah tuanku, jadilah
yang tanah dan laut disuratkan

sebab,
aku hanya di taman waktu itu
sebelum tau telanjang itu berdosa


semarang 2011