Sayang
pergilah, pergi yang jauh, jangan pulang ke sini lagi, pergilah
seperti hari-hari pergi, jam-jam pergi, tahun-tahun pergi, semua yang
menandai kau pernah di sini, bawalah apa yang dapat dibawa, jangan
tinggalkan apapun sekalipun kenangan, bohonglah kalau ingatan tak
dapat dilampaui oleh jarak, oleh kekuatan magis, larilah sejauh
mungkin dariku, karena aku monster, aku yang dulu lama-lama di
sampingmu, membuatmu leleh dan lengket, membuatmu jinak dan cengeng,
membuatmu percaya pada suaraku, kenapa kau harus menjadi sangat beku
sekarang, teguh menyedihkan, apakah aku harus rajin-rajin kasihan,
dan menjagamu seperti menjaga sore yang murung, aku sedih sayang,
cinta ternyata seperti indomaret, ramai, enak, banyak dan gampang
tapi membuatmu seperti wajib untuk datang, aku sedih sayang
membayangkan anak-anak lahir dari rasa kasihan dan waktu yang cemas
pada usiaku, usiamu, atau pada orangtua kita yang lugu, aku memang
aneh, maka pergilah, pergi yang jauh, sejauh kau bisa, karena aku tak
ingin di sana, mati bosan dalam kasih sayangmu yang makin lama makin
mirip malaikat dari kitab-kitab suci, baik hati dan berwibawa,
kadang-kadang kenapa kita tidak menyamar saja, atau kerasukan arwah
manusia lain, ah, kalau tidak karena ibu aku tak merasa bersalah pada
dunia ini, hanya itu yang tersisa, sebab ada yang menarik-narikku
setiap kali menyangkal, ibu dari mana rahim itu asalnya, benarkah
tuhan meniupkannya, aku takut membayangkannya seperti membayangkan
lelaki itu di sini sekarang, dan ia ingin menanam aku ke dalam aku
yang lain, kenapa pertemuan harus disahkan menjadi sesuatu, aku ingin
dia pergi, tapi dia menjadi beku sekarang, menjadi patung, menjadi
batu, menjadi pohon, menjadi kayu dan jika bukan karena ibu, aku tak
merasa bersalah pada dunia ini.