Kamis, 26 Januari 2012

lamaran datang suatu hari



Sayang pergilah, pergi yang jauh, jangan pulang ke sini lagi, pergilah seperti hari-hari pergi, jam-jam pergi, tahun-tahun pergi, semua yang menandai kau pernah di sini, bawalah apa yang dapat dibawa, jangan tinggalkan apapun sekalipun kenangan, bohonglah kalau ingatan tak dapat dilampaui oleh jarak, oleh kekuatan magis, larilah sejauh mungkin dariku, karena aku monster, aku yang dulu lama-lama di sampingmu, membuatmu leleh dan lengket, membuatmu jinak dan cengeng, membuatmu percaya pada suaraku, kenapa kau harus menjadi sangat beku sekarang, teguh menyedihkan, apakah aku harus rajin-rajin kasihan, dan menjagamu seperti menjaga sore yang murung, aku sedih sayang, cinta ternyata seperti indomaret, ramai, enak, banyak dan gampang tapi membuatmu seperti wajib untuk datang, aku sedih sayang membayangkan anak-anak lahir dari rasa kasihan dan waktu yang cemas pada usiaku, usiamu, atau pada orangtua kita yang lugu, aku memang aneh, maka pergilah, pergi yang jauh, sejauh kau bisa, karena aku tak ingin di sana, mati bosan dalam kasih sayangmu yang makin lama makin mirip malaikat dari kitab-kitab suci, baik hati dan berwibawa, kadang-kadang kenapa kita tidak menyamar saja, atau kerasukan arwah manusia lain, ah, kalau tidak karena ibu aku tak merasa bersalah pada dunia ini, hanya itu yang tersisa, sebab ada yang menarik-narikku setiap kali menyangkal, ibu dari mana rahim itu asalnya, benarkah tuhan meniupkannya, aku takut membayangkannya seperti membayangkan lelaki itu di sini sekarang, dan ia ingin menanam aku ke dalam aku yang lain, kenapa pertemuan harus disahkan menjadi sesuatu, aku ingin dia pergi, tapi dia menjadi beku sekarang, menjadi patung, menjadi batu, menjadi pohon, menjadi kayu dan jika bukan karena ibu, aku tak merasa bersalah pada dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar